Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 November 2011

Merenungkan Isi Al-Qur'an

Merenungkan makna al-Qur’an pada prinsipnya adalah dengan cara mentadabburi dan memikirkannya. Seorang yang bagus bacaannya adalah apabila hatinya telah melunak dengan kalam Rabbnya, konsentrasi dalam mendengarkan dan menghadirkan segenap hati terhadap makna-makna sifat dari Dzat yang berbicara kepadanya, memperhatikan kekuasaan Nya, meninggalkan ketergantungan terhadap pengetahuan dan akalnya, melepas segala rasa keberdayaan dan kekuatan diri, mengagungkan Dzat yang berfirman kepadanya, merasa hina dengan kemampuan pemahaman nya.

Dengan kondisi yang istiqamah dan hati yang bersih, dengan kekuatan ilmu, kesungguhan pendengaran untuk memahami firman-Nya, seakan-akan menyaksikan jawaban yang Ghaib. Juga dengan doa orang yang merendah diri, merasa banyak kekurangan dan merasa miskin, serta dengan menanti pertolongan dari Dzat yang Maha Menolong dan Maha Tahu, dan dengan memohon pertolongan kepada-Nya agar bacaannya membawa dirinya kepada pemahaman makna. Dia menghadirkan sifat dari Dzat yang berbicara , berupa janji-Nya dengan penuh kerinduan, ancaman-Nya dengan perasaan takut dan peringatan-Nya dengan kesungguhan.

Allah subhanahu wata’alaberfirman,
”Orang-orang yang telah kami beri al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya.” (QS.al-Baqarah:121)

Dan orang inilah yang merupakan rasikh fil ilm atau mendalam ilmunya, semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan kita termasuk golongan orang seperti ini. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
”Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).” (QS. al-Ahzab: 4). (Al-Burhan, Az-Zarkasyi 2/197)

Selayaknya bagi orang yang membaca al-Qur’an untuk meresapi setiap ayat sesuai dengan konteksnya, serta berusaha memahaminya. Jika dia membaca ayat,artinya, “Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi.” (QS.al:An’am:1). Maka hendaknya dia menyadari betapa agungnya Allah subhanahu wata’ala, dan terlintas di benaknya kekuasaan Allah subhanahu wata’alaƒndan segala apa yang Dia kehendaki. Kemudian jika membaca ayat, artinya,
”Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah (air mani) yang kamu pancarkan. (QS. 56:58)

Maka hendaknya berfikir bagaimana nuthfah (air mani) dapat berubah menjadi bagian-bagian daging dan tulang. Dan jika membaca ayat tentang keadaan orang-orang yang diadzab hendaknya merasakan takut tertimpa, jika lalai dari mengerjakan perintah-perintah Allah.

Dan selayaknya seseorang yang membaca al-Qur’an mengetahui bahwa dirinya adalah yang sedang menjadi obyek sasaran dari pembicaraan al-Qur’an itu, dan dirinyalah yang mendapat ancaman. Dan kisah-kisah yang ada bukan sekedar membawakan cerita belaka, namun ia memberikan pelajaran. Maka ketika itu dia membaca al-Qur’an seperti membaca nya seorang budak, dan dirinya sedang menjadi sasaran dari tulisan tuannya. Maka hendaklah dia merenungkan al-Kitab dan mengamal kan apa yang menjadi tuntutannya. (MukhtasharMinhaj al-Qasidin, halaman 68)

Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Merupakan kewajiban bagi siapa saja -yang dikhususkan oleh Allah Ta’ala dengan menghafal al-Qur’an- agar membaca dengan bacaan yang sebenarnya (haqqa tilawatih), mentadabburi dengan hakikat ibrah dan pelajarannya, memahami segela keistimewaannya dan mencari tahu apa yang asing baginya.” (al-Jami’ liahkam al-Qur’an 1/ 2)

Al-Hakim at-Tirmidzi rahimahullah berkata tentang kemuliaan al-Qur’an, “Hendaknya dibaca dengan tenang, pelan-pelan dan tartil, dan merupakan kemuliaan al-Qur’an hendaknya (dalam membaca) dengan mencurahkan ingatan dan segenap pemahaman sehingga dapat mencerna apa yang difirmankan itu. Termasuk memuliakan al-Qur’an juga hendaknya berhenti pada ayat-ayat janji (wa’d) dan berharap kepada Allah subhanahu wata’ala serta memohon keutamaan dari-Nya, berhenti pada ayat ancaman (wa’id) dan memohon perlindungan kepada Allah darinya.” (al-Jami’ liahkam al-Qur’an 1/27, dan dinisbatkan ke kitab Nawadir al-Ushul)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Apabila membaca al-Qur’an dengan tafakkur sehingga tatkala melewati ayat yang dia (pembaca) butuh terhadap ayat itu untuk mengobati hatinya, maka hendaknya dia mengulang-ulang ayat itu meskipun seratus kali, bahkan meskipun semalam suntuk. Karena membaca satu ayat dengan tafakkur dan pemahaman, lebih baik daripada menghatamkan bacaan dengan tanpa tadabbur dan pemahaman. Dan juga lebih bermanfaat bagi hati, lebih dapat menghantarkan kepada tercapainya kesempurnaan iman serta rasa manisnya al-Qur’an.?¨ (Miftah Dar as-Sa’adah, hal 402)

Ibnu Muflih rahimahullah berkata, “Berkata al-Qadhi, “Kriteria minimal tartil adalah dengan meninggalkan ketergesaan dalam membaca al-Qur’an, dan yang sempurna adalah tartil di dalam membaca, merenungi ayat-ayat itu, memahaminya, serta mengambil pelajaran darinya meskipun sedikit di dalam membaca, dan ini lebih baik daripada terus membaca dengan tanpa pemahaman sama sekali.”

Sementara Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Seseorang yang membaca al-Qur’an hendaknya memperbagus suaranya dan membacanya dengan rasa takut dan dengan tadabbur, dan ini merupakan makna dari sabda Nabi, “Tidak pernah Allah menyeru dengan sesuatu seperti menyerunya kepada Nabi agar membaguskan suara dan memperindah dalam membaca al-Qur’an dengan mengeraskannya.” (HR. al-Bukhari no.5024, Muslim no. 297,233, an- Nasai, 2/180, Abu Dawud no.1473 dari hadits Abu Hurairah). (al-Adab asy- Syar’iyyah).

Imam as-Suyuthi rahimahullah menyifati wukuf (merenungi) makna-makna al-Qur’an dengan perkataannya, “Hendaknya hati sibuk memikirkan makna-makna ayat yang dilafadzhkan, sehingga mengetahui masing masing ayat, lalu merenungkan perintah-perintah dan larangan-larangannya, serta berkeyakinan untuk menerima itu semua. Jika pada masa lalu ia termasuk orang yang tidak perhatian terhadap masalah itu, maka dia meminta ampun dan beristighfar, jika melewati ayat rahmat maka dia gembira dan memohonnya, atau melewati ayat adzab maka merasa takut dan meminta perlidungan, atau melewati ayat tentang penyucian atau tasbih kepada Allah subhanahu wata’ala, maka hendaknya menyucikan dan mengagungkan-Nya, atau melewati ayat yang berisikan doa, hendaknya merendah diri dan memintanya. (al-Itqan fi Ulum al-Qur’an 1/ 140)

Berkata al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah, “Dan selayaknya dalam masalah itu (membaca al-Qur’an) hendaknya menjadikan makna sebagai tujuan, sedangkan lafazh adalah sebagai sarana untuk memahami makna, maka hendaknya melihat kepada siyaqul kalam (arah pembicaraan) serta kepada siapa pembicaraan itu ditujukan, lalu mempertemukan antara yang dia baca itu dengan pendapatnya dalam tempat (ayat) yang lainnya. Dan hedaknya dia mengetahui bahwa al-Qur’an ditujukan untuk memberi petunjuk kepada manusia baik yang ‘alim maupun yang bodoh, yang ada di kota maupun yang ada di pelosok. Barang siapa yang mendapatkan taufik untuk itu maka tidak ada yang tersisa pada dirinya kecuali akan memberikan perhatian untuk mentadabburi dan memahaminya, akan banyak memikirkan lafazh dan maknanya, kewajiban-kewajiban dan kandungan nya, serta petunjuknya baik yang diucapkan atau yang difahami. Jika seorang memang telah mencurahkan seluruh perhatian dalam masalah ini maka Allah subhanahu wata’ala akan memuliakan sebagian di antara hamba-Nya, dan Allahƒnsubhanahu wata’ala tentu akan membukakan ilmu-Nya berupa hal-hal yang tadinya tidak mampu dia usahakan. (Taisir al-Karim ar-Rahman, 12)

Oleh karena itu selayaknya keinginan atau motivasi terbesar orang shalih, baik di bulan Ramadhan atau selainnya, adalah berapa banyak al-Qur’an memberikan pengaruh dalam sikap? Bukan sekedar berapa banyak menghatamkan al-Qur’an.

Sumber: kitab, “Tadabbur al-Qur’an” karya Salman bin Umar al-Sunaidy [alsofwah]
Sumber : www.solusiit.net
Read More..

Habib Abdullah Assegaf saat simulasi khutbah Arafah di manasik haji perdana Cordova

Banyak cerita indah yang disampaikan Habib Abdullah Assegaf saat simulasi khutbah Arafah di manasik haji perdana Cordova Sabtu 5/9 lalu. Selama kurang dari 45 menit menjelang buka puasa, Habib “cinta†yang juga sebagai pembimbing haji Cordova Travel menggetarkan setiap relung jiwa yang berada disebuah tenda “Arafahâ€. Bait-bait kata yang keluar begitu jelas menggambarkan sosok ulama kharismatik dengan kedalaman makna dan kehalusan kata. Pujangga cinta yang konsen dengan makrifatullah itu mampu menyihir jemaah dengan retorika yang berkarakter. Filosofi wukuf di Padang Arafah menjadi tema pembahasan yang sangat menarik. Semua yang tertuang dari khutbahnya, dikondisikan benar-benar mirip di Padang Arafah saat wukuf. Terlebih selogan “Be The Real Hajjâ€, “6 Hours to reborn†dan selogan-selogan smart lainnya menghiasai hampir di setiap pojok tenda. Desain interior yang begitu mengagumkan, menandakan keseriusan Cordova dalam memberikan pelayanan eksklusif terhadap tamu-tamu Allah. Lebih jelas lagi, Habib Assegaf menuturkan “Kami adalah pelayan-pelayan Anda, kewajiban kami memberikan pelayanan yang terbaik untuk para tamu agung.†Jemaah begitu serius dan antusias mengikuti rentetan agenda manasik. Bahkan banyak diantara jemaah yang terlihat berkaca-kaca saat mendengarkan filosofi tentang esensi haji saat wukuf di Arafah.

Enam jam menuju sebuah fitrah. Terlahir suci kembali setelah lembaran hidup terasa kelam. Lembaran kain hitam yang membentang sejauh langkah terpijak, menjadi putih dan suci setelah melalui enam jam krusial itu. Tak ayal ketika Allah SWT “berdialog†dengan Nabi Musa As. Mengenai keutamaan wukuf di Arafah, Nabi Musa berharap agar syariat wukuf saat berhaji menjadi bagian dari kewajiban umatnya. Namun Allah SWT menolaknya, hari yang paling mulia saat wukuf itu akan tetap menjadi bagian syariat haji untuk umat kekasih-Nya, Muhammad SAW. Setelah tertolak, Nabi Musa terus bermunajat dan memohon pada Allah, jika wukuf tidak dijadikan bagian syariatnya, bagaimana jika ia dijadikan sebagai umatnya Nabi Muhammad SAW untuk bisa mengikuti wukuf di Arafah. Tetapi Allah SWT. tetap menolaknya. Kemuliaan hari Arafah dalam perjalanan haji akan diberikan pada kekasih agung-Nya. Subhanallah… Betapa besar keutamaan dan kemuliaan hari Arafah, sehingga Nabi Musa As. bermohon untuk dijadikan umat Rasulullah SAW.

Diantara ratusan bahkan ribuan Nabi-nabi Allah di muka bumi, sebanyak 25 Nabi yang diwajibkan untuk dikenal. Diantara ke-25 Nabi hanya 5 nabi yang terpilih sebagai nabi pilihan (Ulul Azmi), diantaranya Nabi Nuh As, Nabi Ibrahim As, Nabi Musa As, Nabi Isa As, dan Nabi Muhammad SAW. Diantara ke-5 nabi dan Rasul tersebut, Nabi Muhammad SAW yang terpilih menjadi kekasih Allah SWT yang paling mulia. Sehingga Allah menetapkan hari Arafah yang penuh dengan keberkahan itu menjadi bagian dari syariat yang dianugrahkan untuk Nabi Muhammad dan umatnya.

Six hours to reborn bukan semata khayalan dan hanya semacam iming-iming agar manusia berhaji. Tetapi Rasul telah bersabda dalam sebuah hadist shahihnya, “Baangsiapa melaksanakan haji di rumah ini tidak rafast, dan tidak berbuat fasik, maka dia kembali seperti pada hari dilahirkan ibunya (HR. Bukhari). Saking dahsyatnya hari Arafah, sehingga siapapun yang berada di Arafah melaksanakan wukuf, dan ada secuil bagian hatinya yang meragukan ampunan Allah SWT. Maka ia telah berbuat dosa besar.

So, untuk menghadapi hari-hari haji, terutama pada enam jam diatas, tak ada salahnya jika dipersiapkan dari sekarang. Karena pembentukan kharakter dan mental menuju keshalehan diri tak bisa dibentuk dengan instan.

Sumber : www.cordova-travel.com
Read More..

Makna Wukuf di Arafah

9 dulhijjah atau senin 15 nopember 2010

Hari ini jutaan jamaah haji berkumpul di Arafah untuk melaksanakan salah satu rukun haji yaitu wukuf di arafah. Bersamaan dengan itu....seluruh umat islam di dunia disunnahkan untuk melakukan puasa arafah yang jatuh pada tanggal 9 dulhijjah atau senin 15 nopember 2010. Mudah-mudahan seluruh jamaah haji diberikan kekuatan untuk melaksanakan rangkaian ibadah haji ini termasuk wukuf di arafah.

Sebenarnya apa sih makna wukuf di arafah...? Boleh dikata... wukuf di arafah merupakan miniatur padang mahsyar dimana seluruh umat manusia akan dibangkitkan dari kematian dan berkumpul di suatu tempat yang disebut padang mahsyar. Manusia harus mempertanggungjawabkan semua amal perbuatan dihadapan Allah swt. Padang mahsyar diperkirakan panasnya luar biasa...hanya manusia yang banyak amal ibadahnya saja....yang mampu merasakan kesejukan di tengah panasnya padang mahsyar. Selebihnya akan merasakan panasnya terik matahari yang hanya sejengkal tingginya....dengan rasa panas yang luar biasa. Ini karena selama hidup di dunia...banyak manusia yang melakukan dosa dan perbuatan buruk lainnya.

Wukuf di arafah seolah mengingatkan kita semua akan hari kebangkitan itu. Sudah selayaknyalah manusia mempersiapkan hari pembalasan itu. Dimana setiap manusia akan dihisap secara adil oleh Tuhan yang Maha Adil. Tidak ada sedikitpun kesalahan dalam hisap nanti. Keadilan betul-betul ditegakkan. Disana...hukum tidak bisa dibeli oleh siapapun...termasuk orang macam Gayus tambunan...ataupun mafia lainnya. Barangsiapa berbuat kejahatan walaupun seberat "atom"...maka dia akan mendapatkan balasannya. Begitu pula bila berbuat baik walaupun hanya sebesar "atom"...maka diapun akan mendapat balasan.

So...jangan pernah bersedih ketika kita sudah berbuat baik di dunia ini...ternyata tidak dihargai oleh orang lain....karena Allah Maha Melihat dan Maha Adil. Besok di akhirat akan dibalas dengan pahala yang setimpal...asal perbuatan baik itu bener-benar dilakukan dengan ikhlash..hanya mengharap ridho Allah swt.

Maka..di Arafahlah...jamaah haji digembleng dengan panasnya terik....dan perjuangan yang cukup melelahkan. Asal mau bersabar dan selalu bertawakal...Insya Allah akan menjadi pribadi yang luhur dan hajinya akan mabrur.

Pentingnya Wukuf di Arafah

Sebagaimana Sabda Nabi, Al-hajju 'Arafah'', maksudnya adalah inti dan puncak haji adalah melaksanakan wukuf di Arafah. Arafah berarti mengenal, mengetahui, dan menyadari. Sedangkan makna wukuf adalah berdiam diri.
Dengan demikian, makna wukuf di Arafah adalah berdiam diri untuk meditasi dan menengadah guna merenungkan eksistensi diri dihadapan Allah SWT dan dihadapan makhluk alam semesta kemudian melakukan transformasi ruhaniah secara besar-besaran.

Dengan wukuf di Arafah tersebut, orang-orang yang melaksanakan haji diharapkan menjadi arif dan sadar akan eksistensi dirinya, dari mana ia berasal dan ke mana ia akan pergi, sadar akan tugas dan tanggung jawabnya, serta memanifestasikan dan mengaplikasikan kesadaran tersebut dalam bentuk tindakan konkret dalam kehidupan pribadi dan kehidupan masyarakatnya.

Haji juga melatih manusia melepaskan diri dari selera konsumtif, cinta harta, nafsu birahi, amarah, dan berkata keji atau perkataan kotor. Dalam berhaji, manusia dilarang mengenakan perhiasan atau parfum. Bahkan sebaliknya (sangat) dianjurkan untuk rela berkorban apa saja yang menjadi miliknya -- termasuk yang paling dicintainya, sebagaimana Nabi Ibrahim as yang rela mengorbankan Ismail, putra yang amat dicintainya (lihat QS 37: 99-113).

Said Hawwa dalam buku Al-Islam menyatakan bahwa dengan ibadah haji, seseorang dapat belajar tentang banyak hal, terutama tentang persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah), persamaan manusia (al-musawah), dan persatuan umat. Dengan haji pula, seseorang dapat belajar tentang perjuangan kesabaran, kesediaan untuk berkorban tanpa pamrih, toleransi,dan kepedulian sosial.

Demikian makna ibadah haji dan wukuf di arafah ...semoga bermanfaat bagi kita semua dan menambah keimanan dalam hati kita ...Amiien.

Sumber : www.didiksugiarto.com
Read More..

Airmata Rasulullah SAW

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya.


Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis-shalaati, wa maa malakat aimaanukum - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.

Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii! - Umatku, umatku, umatku".

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allaahumma sholli 'alaa Muhammad wa baarik wa sallim 'alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

*******

NB : Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan RasulNya mencintai kita. Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Amin.

Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangimu di dunia, tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang mengasihmu di akhirat.

Sumber : www.wakrizki.net
Read More..

Cemburu


Aku cemburu kepadanya yang memiliki hati setipis sutra, yang jika dibacakan Qur’an kepadanya maka iapun menangis

Aku cemburu kepadanya yang kaya nan dermawan, yang jika melihat kesusahan orang lain maka iapun memberi

Aku cemburu kepadanya yang miskin nan jujur, yang jika digoda dengan harta haram nan melimpah maka iapun menolak

Aku cemburu kepadanya yang rupawan nan tawadhu’, yang jika dipuji terus menerus maka iapun bersyukur kepada yang memberi

Aku cemburu kepadanya yang buruk nan tabah, yang jika dihina terus menerus maka iapun

bersyukur kepada yang memberi

Aku pun cemburu padanya yang kuat nan berwibawa, yang mampu melindungi yang lemah dan melawan yang salah

Aku juga cemburu padanya sang pemimpin yang bijaksana, yang mampu memimpin rakyatnya menuju kesejahteraan dan keadilan.

Aku cemburu kepada orang sakit yang selalu bersyukur

Aku cemburu kepada orang sehat yang mampu memanfaatkan waktunya

Aku cemburu kepada orang berilmu yang mampu membagi-bagikan ilmunya

Aku cemburu kepada orang sholeh yang mampu mengajak tetangganya untuk ikut mengumandangkan nama-Mu

Buat apa aku cemburu?

Aku cemburu karena merasa kurang mampu. Allah melimpahkan kekuatan kepada mereka yang belum tentu aku bisa memikulnya Aku takut menjadi orang yang dzalim jika diberikan kekuatan seperti mereka. Apakah aku bisa???

Sumber : www.alrezamittariq.blogspot.com
Read More..

Muhasabah

Merenungi... Disaat klam gulita. Disaat diri ini tak lagi mendambakan suatu pencapaian. Sungguh kosong... Melainkan Rido yang maha pengasih lagi maha Penyayang kuharapkan itu. Kemana jiwa murni ini yang merindukan Sang Maha Penciptanya.

Kesunyian~ Keheningan~ Tak bergerak~ Tak ada daya maupun upaya Engkaulah Penolngku 1 yang Maha Esa... Jiwa dan Raga ini hidup karna Engkau pemilik Asmaul Husmah 99. Izinkan hamba tuk bertobat di segala waktu hidup ini hingga hingga kelak. Ku tak tahu~ engkaulah yang maha mengdtahui disaat segala sesuatu dalam hidupku ini akan dipertanggung jawabkan. Ditempat penantian yang gelap hingga Kesunyian~ Keheningan~ Tak bergerak~ adalah amal Baik maupun buruk yang dapat menentukan akhir perjalanan hidup ini...
Read More..
Top Bottom Back To Top