Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Diri. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 November 2011

Kecil Usaha Kesan Besar

Pernah dengar "Kesan Rama-Rama" atau Butterfly Effect? Ia ada satu ungkapan puitis tentang kejadian-kejadian kecil yang tidak diketahui orang tetapi mampu memberikan kesan yang besar kepada orang lain atau tempat lain. Philip Merilees pernah mencadangkan tajuk kertas kajian oleh Edward Lorenz tentang perkara ini di mesyuarat Persatuan untuk Pembangunan Sains Amerika ke-139 dengan tajuk, Adakah kibasan sayap rama-rama di Brazil menghasilkan tornado di Texas?



Mungkin kecil bagi kita, tetapi kesannya besar di Akhirat Kelak.
Apalah sangat kibasan sayap rama-rama bagi kita? Kecil bukan? Tetapi bagi saintis tersebut, frasa itu merujuk kepada idea yang sayap rama-rama mungkin menghasilkan perubahan yang amat kecil dalam atmosfera bumi yang mungkin akhirnya mengubah arah tornado atau melambatkan, melajukan atau langsung menghalang kejadian tornado di beberapa lokasi. Kibasan sayap mewakili perubahan kecil keadaan asal dalam sistem, yang menyebabkan rantaian peristiwa yang menjadi punca kepada perubahan peristiwa-peristiwa pada skala besar.
Seperti juga kita hari ini, ada usaha yang kecil di mata kita atau orang lain, walhal ia sebenarnya memberikan kesan besar, jika tidak di dunia, tetap akan terkira di akhirat kelak.

Itu rama-rama, bagaimana dengan tindakan sebesar zarah tetap juga dikira?


وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِن قُرْآنٍ وَلاَ تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلاَّ كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ وَمَا يَعْزُبُ عَن رَّبِّكَ مِن مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاء وَلاَ أَصْغَرَ مِن ذَلِكَ وَلا أَكْبَرَ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Qur'an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz)
(Surah Yunus 10: Ayat 61)




 GO
Read More..

Minggu, 13 November 2011

Beberapa Bukti Kerasulan Muhammad SAW

Aqidah
6/6/2011 | 05 Rajab 1432 H | Hits: 4.234
Oleh: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah

دلائل نبوة محمد صلى الله عليه وسلم

dakwatuna.com – Apa saja ayat (tanda), bayyinat (bukti), atau mukjizat yang menjadi pendukung kerasulan Muhammad SAW? Bukti-bukti kenabian Nabi Muhammad SAW cukup banyak, dua di antaranya adalah bisyarat dan mukjizat. Penjelasan rincinya adalah sebagai berikut:
1. Bisyarat (Pengabaran dari Kitab-Kitab sebelumnya) – البشارات
Kitab-kitab Allah sebelum Al-Qur’an telah memberi kabar gembira tentang kenabian Muhammad SAW sebelum beliau dilahirkan, bahkan kitab-kitab tersebut telah mengabarkan sifat-sifat pribadi Nabi Muhammad, ciri-ciri negeri tempat kemunculannya, keadaan kaumnya, dan kapan (waktu) beliau diutus. Allah SWT berfirman:
الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم
“(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.” (Al-A’raf: 157)
Para Ahbar (ulama Yahudi) dan Qissis (pendeta Nasrani) terdahulu telah memberikan berita gembira dengan kedatangan Nabi Muhammad SAW sebelum beliau diutus. Allah SWT berfirman membujuk dan mengingatkan orang-orang Arab musyrik yang telah mendengar berita ini dari ulama Bani Israil agar mereka beriman:
وَإِنَّهُ لَفِي زُبُرِ الْأَوَّلِينَ ﴿١٩٦﴾ أَوَلَمْ يَكُن لَّهُمْ آيَةً أَن يَعْلَمَهُ عُلَمَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ ﴿١٩٧﴾
“Dan Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar (tersebut) dalam kitab-kitab orang yang dahulu. Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?” (Asy-Syu’ara: 196)
Ketika Nabi Muhammad SAW benar-benar diutus oleh Allah SWT, sebagian mereka dan ahli kitab pun beriman kepada beliau dan yang lainnya tetap kafir. Dan alasan terbesar keimanan mereka adalah kesesuaian bisyarat yang mereka dapatkan dalam Taurat Dan Injil dengan pribadi Rasulullah SAW.
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ مِن قَبْلِهِ هُم بِهِ يُؤْمِنُونَ ﴿٥٢﴾
“Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al-Kitab sebelum Al-Qur’an, mereka beriman (pula) dengan Al-Qur’an itu.” (Al-Qashash: 52)
2. Mukjizat – المعجزات
Tidak ada seorang nabi yang diutus oleh Allah melainkan diperkuat dengan mukjizat. Mukjizat itu ada yang berupa fisik (hissiah) dan ada yang berbentuk ma’nawiyah.
a. Mukjizat hissiyah - حسية
Contoh mukjizat hissiah yang diberikan kepada Nabi Muhammad di antaranya; menangisnya kayu kurma (mimbar) Rasulullah ketika Rasul pindah ke mimbarnya yang baru,  berdzikirnya batu-batu kerikil yang ada di genggaman Rasul,  keluarnya air dari sela-sela jemari beliau sehingga semuanya dapat meminumnya, memperbanyak makanan yang sedikit sehingga cukup untuk banyak orang, menyembuhkan dengan izin-Nya orang-orang yang beliau doakan, berbicara dengan pohon dan kesaksian pohon itu atas kerasulannya, dan momen-momen lain yang menakjubkan dll.
b. Mukjizat ma’nawiyah (mukjizat al-Qur’an) - معنوية(القران)
Allah SWT telah mengutus Muhammad SAW dengan membawa sebuah Kitab dari-Nya yang mengandung mukjizat, ayat-ayat, dan bukti-bukti yang nyata kebenaran risalah ilahiyyahnya. Mukjizat Qur’aniyah ini di antaranya sebagai berikut:
i. mukjizat dalam kefasihan lafalnya, uslub (cara penyampaian) nya, dan tarkib (susunan kata dan kalimat) nya. Al-Qur’an telah menantang semua manusia dan jin untuk membuat semisalnya. Firman Allah SWT:
قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا ﴿٨٨﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. (Al-Isra: 88)
ii. Al-Qur’an di antaranya berisi akhbar ghaibiyyah (berita-berita ghaib) tentang masa lalu yang jauh, juga tentang berita masa depan yang kemudian telah terjadi dan masih terus akan terjadi di waktu mendatang. Allah SWT berfirman:
تِلْكَ مِنْ أَنبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ ۖ مَا كُنتَ تَعْلَمُهَا أَنتَ وَلَا قَوْمُكَ مِن قَبْلِ هَٰذَا ۖ فَاصْبِرْ ۖ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ ﴿٤٩﴾
“Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Hud: 49)
iii. mukjizat dalam mempengaruhi jiwa manusia. Jika Anda membacanya Anda akan merasakan pengaruh besar itu dalam jiwa Anda dan ada perasaan bahwa yang sedang berbicara kepada Anda adalah Allah SWT. Dia berfirman tentang karakter Al-Qur’an ini:

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ ﴿٢٣﴾
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang [1], gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.” (Az-Zumar: 23)
Ta’tsir (pengaruh) Al-Qur’an terhadap jiwa ini akan semakin kuat dengan peningkatan tadabbur dan tafakkur terhadap ayat-ayatnya.
iv. Al-Qur’an adalah mukjizat karena kandungan petunjuk dan hukum-hukumnya yang terbukti telah berhasil mencetak umat terbaik bagi manusia dan kemanusiaan. Firman Allah SWT:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran: 110)
Adalah sebuah hal yang mustahil bila seorang ummiy dari padang pasir yang tidak dapat membaca dan menulis dapat mendatangkan sendiri sistem hidup, hukum-hukum dan petunjuk yang mampu memproduk generasi terbaik sepanjang zaman, lalu mereka menjadi hakim dan pemimpin dunia yang terdiri dari berbagai bangsa dengan berbagai budaya dan peradabannya masing-masing.
v. Al-Qur’an adalah mukjizat karena kandungan keilmuannya dan pengungkapannya atau isyaratnya terhadap hakikat ilmiyyah alam semesta. Seiring kemajuan zaman semakin terungkap kebenaran dan keakuratan informasi Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar.” (Fushshilat: 53)
vi. Al-Qur’an adalah mukjizat karena telah mendatangkan berbagai hal yang agung lewat lisan seorang ummiy yang tidak dapat membaca dan menulis. Allah SWT menyifati Rasulullah SAW di depan musuh-musuhnya maupun para pengikutnya:

وَمَا كُنتَ تَتْلُو مِن قَبْلِهِ مِن كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ ۖ إِذًا لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ ﴿٤٨﴾
“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Quran) sesuatu Kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).” (Al-Ankabut: 48)
Dukungan Allah SWT dalam Bentuk lain Kepada Rasulullah SAW
Awalnya, hanya sedikit orang-orang yang beriman kepada Muhammad SAW dan mereka disakiti bahkan diperangi karena keimanan mereka oleh orang-orang musyrik. Kemudian Allah SWT mendukung beliau dengan pertolongan dalam menghadapi musuh-musuh dakwah dengan mengirimkan malaikat, rasa kantuk yang menimbulkan kedamaian, mengirimkan angin, dan bantuan lain yang disaksikan sendiri oleh orang-orang kafir. Mereka yang objektif berkata: “Tidak ada yang melakukan ini kecuali Allah SWT.”
Ketika Rasulullah SAW menampakkan mukjizatnya banyak orang-orang yang tadinya kafir dan memusuhinya berubah menjadi beriman dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka demi meninggikan kalimat Allah SWT.

وَلَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ ۖ وَمَا يَكْفُرُ بِهَا إِلَّا الْفَاسِقُونَ ﴿٩٩﴾
“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik.” (Al-Baqarah: 99)
Kesimpulan
  • Allah SWT telah memberikan ta’yid (dukungan dan bantuan) kepada rasul-Nya Muhammad SAW berupa ayat atau mukjizat sehingga tak ada alasan bagi manusia untuk mendustakan beliau.
  • Kitab-kitab samawi terdahulu telah mengabarkan kedatangan Muhammad SAW, tanda-tanda zamannya, tanda-tanda negerinya, juga keadaan beliau dan kaumnya. Muhammad SAW datang dengan semua tanda-tanda yang sesuai dengan semua berita para rasul dan kitab-kitab mereka sehingga ahli kitab yang objektif pun beriman dan mengikuti beliau seperti Salman Al-Farisi dan Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhuma.
  • Allah SWT  telah mendukung Nabi Muhammad SAW dengan berbagai hal yang luar biasa seperti mukjizat rasul-rasul yang lain.
  • Allah SWT telah menurunkan sebuah kitab kepada Nabi Muhammad SAW yang merupakan mukjizat dalam kefasihan lafalnya, uslubnya, informasi ghaib, informasi masa lalu dan masa depan, mukjizat dalam kekuatan pengaruhnya bagi jiwa, informasi tentang hakikat alam semesta yang sebagiannya telah dibuktikan oleh kemajuan sains dan teknologi, juga mukjizat dalam petunjuk dan arahannya sehingga melahirkan umat terbaik yang pernah dikenal oleh manusia, padahal yang menyampaikan Al-Qur’an ini hanyalah seorang ummiy yang tidak dapat membaca dan menulis.
  • Dengan mukjizat yang diberikan Allah kepada Rasulnya, membuktikan bahwa risalah dan ajaran yang disampaikannya adalah haq bersumber dari Al-Haq Allah SWT.
Catatan Kaki:
[1] maksud berulang-ulang di sini ialah hukum-hukum, pelajaran dan kisah-kisah itu diulang-ulang menyebutnya dalam Al Quran supaya lebih kuat pengaruhnya dan lebih meresap. Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa maksudnya itu ialah bahwa ayat-ayat Al Quran itu diulang-ulang membacanya seperti tersebut dalam mukaddimah surat Al-Fatihah.
(hdn)

Read More..

(Ketika Mulut, Tak Lagi Berkata) Taufiq Ismail Tentang Chrisye

[Ar-Royyan-7286] Fw: TAUFIQ ISMAIL TENTANG CHRISYE

Agus Rasidi
Thu, 17 Jan 2008 22:46:13 -0800

TAUFIQ ISMAIL TENTANG CHRISYE


----- Original Message ----- From: Slamet Hariyanto

To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, January 18, 2008 11:06 AM
Subject: [Milis_Iqra] TAUFIQ ISMAIL TENTANG CHRISYE

Dari milis sebelah........
=============
Penyair Taufiq Ismail menulis sebuah artikel tentang Krismansyah Rahadi
(1949-2007) di majalah sastra HORISON.
Krismansyah Rahadi (1949-2007):
KETIKA MULUT, TAK LAGI BERKATA

TaUFIQ ISMAIL
Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata,
"Bang, saya punya sebuah lagu. Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, tapi
saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?" Karena saya suka
lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. Saya tanyakan kapan mesti selesai. Dia
bilang sebulan. Menilik kegiatan saya yang lain, deadline sebulan itu
bolehlah. Kaset lagu itu dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris
lirik diperlukan, dan untuk setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan
diisi dengan suku kata. Chrisye menginginkan puisi relijius.

Kemudian saya dengarkan lagu itu. Indah sekali. Saya suka betul. Sesudah
seminggu, tidak ada ide. Dua minggu begitu juga. Minggu ketiga inspirasi
masih tertutup. Saya mulai gelisah. Di ujung minggu keempat tetap buntu.
Saya heran. Padahal lagu itu cantik jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa
mau dikatakan. Tampaknya saya akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya
mau bilang, " Chris, maaf ya, macet. Sori." Saya akan kembalikan pita
rekaman itu. Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin. Malam itu, ketika
sampai ayat 65 yang berbunyi, A'udzubillahi minasy syaithonirrojim. "Alyauma
nakhtimu 'alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum
bimaa kaanu yaksibuun" saya berhenti. Maknanya, "Pada hari ini Kami akan
tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki
mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan." Saya tergugah.
Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa!
Saya hidupkan lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke
larik-larik lagi tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat
berbobot itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. Bismillah. Keragu-raguan
teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu selesai. Lagu itu saya beri
judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon," Chris, alhamdulillah
selesai". Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul
inspirasi lirik tersebut. Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika
berlatih di kamar menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi
lagi, menangis lagi, berkali-kali.

Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye ? Sebuah
Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye: Lirik yang dibuat
Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, yang
menggetarkan sekujur tubuh saya. Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam
lirik itu. Liriknya benar-benarbenar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus
melodi yang begitu menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di
kamar, saya berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya
membanjir. Saya coba lagi. Menangis lagi.Yanti sampai syok! Dia kaget
melihat respons saya yang tidak biasa terhadap sebuah lagu. Taufiq memberi
judul pada lagu itu sederhana sekali, Ketika Tangan dan Kaki Berkata.

Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya dihadapkan pada kenyataan, betapa
tak berdayanya manusia ketika hari akhir tiba. Sepanjang malam saya gelisah.
Saya akhirnya menelepon Taufiq dan menceritakan kesulitan saya. "Saya
mendapatkan ilham lirik itu dari Surat Yasin ayat 65..." kata Taufiq. Ia
menyarankan saya untuk tenang saat menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi
ayatnya, orang memang sering kali tergetar membaca isinya. Walau sudah
ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap saja saya menemukan kesulitan saat
mencoba merekam di studio. Gagal, dan gagal lagi. Berkali-kali saya menangis
dan duduk dengan lemas. Gila! Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya,
belum pernah saya merasakan hal seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri!
Butuh kekuatan untuk bisa menyanyikan lagu itu. Erwin Gutawa yang sudah
senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam itu, langsung mengingatkan
saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah tak bisa ditunda lagi. Hari
terakhir menjelang ke Australia, saya lalu mengajak Yanti ke studio,
menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk mendoakan saya. Dengan
susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga selesai. Dan
tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah menangis dan tak
sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda mendengarkan lagu itu,
itulah suara saya dengan getaran yang paling autentik, dan tak terulang!
Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya mendengarkan lagu itu saja, rasanya
ingin berlari!
Lagu itu menjadi salah satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang
pernah saya nyanyikan. Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benarbenar
meluluhkan perasaan. Itulah pengalaman batin saya yang paling dalam selama
menyanyi.

Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya
terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, dengan
saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka sedemikian
mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir di hari kiamat
kelak.
Mengenai menangis menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan
Iin Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin
biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin akan
menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian sensitif
dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut.
* * *
Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran
album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari produser
untuk lagu tersebut. Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. "Kenapa
Bang, kurang?" Saya jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu
Ketika Tangan dan Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi
saluran saja. Jadi saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah
Yasin ayat 65, firman Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan
hak saya.

Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian saya,
tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan keluar.
"Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi rapi. Kalau
Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun kepada Allah. Tuhan
Maha Pengampun ' kan ?"
Saya pikir jalan yang ditawarkan Chrisye betul juga. Kalau saya berkeras
menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan berlebihan. Akhirnya
solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun senang.
* * *
Pada subuh hari Jum'at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris
Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk
rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan
adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan
empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album
sountrack, 20 album solo dan 2 filem. Semoga penyanyi yang lembut hati dan
pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi tentang
amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang semoga
terbuka lebar baginya. Amin. #
Ketika Tangan dan Kaki Berkata
Lirik : Taufiq Ismail
Lagu : Chrisye

Akan datang hari mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita bila harinya
Tanggung jawab tiba

Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya.... sempurna

Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu yang hina
1997


------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -


Rasulullah SAW bersabda, Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Quran) dan sunnah Rasulullah saw. (HR. Muslim).

Sumber : www.mail-archive.com
Sumber : www.jerman90.wordpress.com
Read More..

Merenungkan Isi Al-Qur'an

Merenungkan makna al-Qur’an pada prinsipnya adalah dengan cara mentadabburi dan memikirkannya. Seorang yang bagus bacaannya adalah apabila hatinya telah melunak dengan kalam Rabbnya, konsentrasi dalam mendengarkan dan menghadirkan segenap hati terhadap makna-makna sifat dari Dzat yang berbicara kepadanya, memperhatikan kekuasaan Nya, meninggalkan ketergantungan terhadap pengetahuan dan akalnya, melepas segala rasa keberdayaan dan kekuatan diri, mengagungkan Dzat yang berfirman kepadanya, merasa hina dengan kemampuan pemahaman nya.

Dengan kondisi yang istiqamah dan hati yang bersih, dengan kekuatan ilmu, kesungguhan pendengaran untuk memahami firman-Nya, seakan-akan menyaksikan jawaban yang Ghaib. Juga dengan doa orang yang merendah diri, merasa banyak kekurangan dan merasa miskin, serta dengan menanti pertolongan dari Dzat yang Maha Menolong dan Maha Tahu, dan dengan memohon pertolongan kepada-Nya agar bacaannya membawa dirinya kepada pemahaman makna. Dia menghadirkan sifat dari Dzat yang berbicara , berupa janji-Nya dengan penuh kerinduan, ancaman-Nya dengan perasaan takut dan peringatan-Nya dengan kesungguhan.

Allah subhanahu wata’alaberfirman,
”Orang-orang yang telah kami beri al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya.” (QS.al-Baqarah:121)

Dan orang inilah yang merupakan rasikh fil ilm atau mendalam ilmunya, semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan kita termasuk golongan orang seperti ini. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
”Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).” (QS. al-Ahzab: 4). (Al-Burhan, Az-Zarkasyi 2/197)

Selayaknya bagi orang yang membaca al-Qur’an untuk meresapi setiap ayat sesuai dengan konteksnya, serta berusaha memahaminya. Jika dia membaca ayat,artinya, “Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi.” (QS.al:An’am:1). Maka hendaknya dia menyadari betapa agungnya Allah subhanahu wata’ala, dan terlintas di benaknya kekuasaan Allah subhanahu wata’alaƒndan segala apa yang Dia kehendaki. Kemudian jika membaca ayat, artinya,
”Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah (air mani) yang kamu pancarkan. (QS. 56:58)

Maka hendaknya berfikir bagaimana nuthfah (air mani) dapat berubah menjadi bagian-bagian daging dan tulang. Dan jika membaca ayat tentang keadaan orang-orang yang diadzab hendaknya merasakan takut tertimpa, jika lalai dari mengerjakan perintah-perintah Allah.

Dan selayaknya seseorang yang membaca al-Qur’an mengetahui bahwa dirinya adalah yang sedang menjadi obyek sasaran dari pembicaraan al-Qur’an itu, dan dirinyalah yang mendapat ancaman. Dan kisah-kisah yang ada bukan sekedar membawakan cerita belaka, namun ia memberikan pelajaran. Maka ketika itu dia membaca al-Qur’an seperti membaca nya seorang budak, dan dirinya sedang menjadi sasaran dari tulisan tuannya. Maka hendaklah dia merenungkan al-Kitab dan mengamal kan apa yang menjadi tuntutannya. (MukhtasharMinhaj al-Qasidin, halaman 68)

Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Merupakan kewajiban bagi siapa saja -yang dikhususkan oleh Allah Ta’ala dengan menghafal al-Qur’an- agar membaca dengan bacaan yang sebenarnya (haqqa tilawatih), mentadabburi dengan hakikat ibrah dan pelajarannya, memahami segela keistimewaannya dan mencari tahu apa yang asing baginya.” (al-Jami’ liahkam al-Qur’an 1/ 2)

Al-Hakim at-Tirmidzi rahimahullah berkata tentang kemuliaan al-Qur’an, “Hendaknya dibaca dengan tenang, pelan-pelan dan tartil, dan merupakan kemuliaan al-Qur’an hendaknya (dalam membaca) dengan mencurahkan ingatan dan segenap pemahaman sehingga dapat mencerna apa yang difirmankan itu. Termasuk memuliakan al-Qur’an juga hendaknya berhenti pada ayat-ayat janji (wa’d) dan berharap kepada Allah subhanahu wata’ala serta memohon keutamaan dari-Nya, berhenti pada ayat ancaman (wa’id) dan memohon perlindungan kepada Allah darinya.” (al-Jami’ liahkam al-Qur’an 1/27, dan dinisbatkan ke kitab Nawadir al-Ushul)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Apabila membaca al-Qur’an dengan tafakkur sehingga tatkala melewati ayat yang dia (pembaca) butuh terhadap ayat itu untuk mengobati hatinya, maka hendaknya dia mengulang-ulang ayat itu meskipun seratus kali, bahkan meskipun semalam suntuk. Karena membaca satu ayat dengan tafakkur dan pemahaman, lebih baik daripada menghatamkan bacaan dengan tanpa tadabbur dan pemahaman. Dan juga lebih bermanfaat bagi hati, lebih dapat menghantarkan kepada tercapainya kesempurnaan iman serta rasa manisnya al-Qur’an.?¨ (Miftah Dar as-Sa’adah, hal 402)

Ibnu Muflih rahimahullah berkata, “Berkata al-Qadhi, “Kriteria minimal tartil adalah dengan meninggalkan ketergesaan dalam membaca al-Qur’an, dan yang sempurna adalah tartil di dalam membaca, merenungi ayat-ayat itu, memahaminya, serta mengambil pelajaran darinya meskipun sedikit di dalam membaca, dan ini lebih baik daripada terus membaca dengan tanpa pemahaman sama sekali.”

Sementara Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Seseorang yang membaca al-Qur’an hendaknya memperbagus suaranya dan membacanya dengan rasa takut dan dengan tadabbur, dan ini merupakan makna dari sabda Nabi, “Tidak pernah Allah menyeru dengan sesuatu seperti menyerunya kepada Nabi agar membaguskan suara dan memperindah dalam membaca al-Qur’an dengan mengeraskannya.” (HR. al-Bukhari no.5024, Muslim no. 297,233, an- Nasai, 2/180, Abu Dawud no.1473 dari hadits Abu Hurairah). (al-Adab asy- Syar’iyyah).

Imam as-Suyuthi rahimahullah menyifati wukuf (merenungi) makna-makna al-Qur’an dengan perkataannya, “Hendaknya hati sibuk memikirkan makna-makna ayat yang dilafadzhkan, sehingga mengetahui masing masing ayat, lalu merenungkan perintah-perintah dan larangan-larangannya, serta berkeyakinan untuk menerima itu semua. Jika pada masa lalu ia termasuk orang yang tidak perhatian terhadap masalah itu, maka dia meminta ampun dan beristighfar, jika melewati ayat rahmat maka dia gembira dan memohonnya, atau melewati ayat adzab maka merasa takut dan meminta perlidungan, atau melewati ayat tentang penyucian atau tasbih kepada Allah subhanahu wata’ala, maka hendaknya menyucikan dan mengagungkan-Nya, atau melewati ayat yang berisikan doa, hendaknya merendah diri dan memintanya. (al-Itqan fi Ulum al-Qur’an 1/ 140)

Berkata al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah, “Dan selayaknya dalam masalah itu (membaca al-Qur’an) hendaknya menjadikan makna sebagai tujuan, sedangkan lafazh adalah sebagai sarana untuk memahami makna, maka hendaknya melihat kepada siyaqul kalam (arah pembicaraan) serta kepada siapa pembicaraan itu ditujukan, lalu mempertemukan antara yang dia baca itu dengan pendapatnya dalam tempat (ayat) yang lainnya. Dan hedaknya dia mengetahui bahwa al-Qur’an ditujukan untuk memberi petunjuk kepada manusia baik yang ‘alim maupun yang bodoh, yang ada di kota maupun yang ada di pelosok. Barang siapa yang mendapatkan taufik untuk itu maka tidak ada yang tersisa pada dirinya kecuali akan memberikan perhatian untuk mentadabburi dan memahaminya, akan banyak memikirkan lafazh dan maknanya, kewajiban-kewajiban dan kandungan nya, serta petunjuknya baik yang diucapkan atau yang difahami. Jika seorang memang telah mencurahkan seluruh perhatian dalam masalah ini maka Allah subhanahu wata’ala akan memuliakan sebagian di antara hamba-Nya, dan Allahƒnsubhanahu wata’ala tentu akan membukakan ilmu-Nya berupa hal-hal yang tadinya tidak mampu dia usahakan. (Taisir al-Karim ar-Rahman, 12)

Oleh karena itu selayaknya keinginan atau motivasi terbesar orang shalih, baik di bulan Ramadhan atau selainnya, adalah berapa banyak al-Qur’an memberikan pengaruh dalam sikap? Bukan sekedar berapa banyak menghatamkan al-Qur’an.

Sumber: kitab, “Tadabbur al-Qur’an” karya Salman bin Umar al-Sunaidy [alsofwah]
Sumber : www.solusiit.net
Read More..

Habib Abdullah Assegaf saat simulasi khutbah Arafah di manasik haji perdana Cordova

Banyak cerita indah yang disampaikan Habib Abdullah Assegaf saat simulasi khutbah Arafah di manasik haji perdana Cordova Sabtu 5/9 lalu. Selama kurang dari 45 menit menjelang buka puasa, Habib “cinta†yang juga sebagai pembimbing haji Cordova Travel menggetarkan setiap relung jiwa yang berada disebuah tenda “Arafahâ€. Bait-bait kata yang keluar begitu jelas menggambarkan sosok ulama kharismatik dengan kedalaman makna dan kehalusan kata. Pujangga cinta yang konsen dengan makrifatullah itu mampu menyihir jemaah dengan retorika yang berkarakter. Filosofi wukuf di Padang Arafah menjadi tema pembahasan yang sangat menarik. Semua yang tertuang dari khutbahnya, dikondisikan benar-benar mirip di Padang Arafah saat wukuf. Terlebih selogan “Be The Real Hajjâ€, “6 Hours to reborn†dan selogan-selogan smart lainnya menghiasai hampir di setiap pojok tenda. Desain interior yang begitu mengagumkan, menandakan keseriusan Cordova dalam memberikan pelayanan eksklusif terhadap tamu-tamu Allah. Lebih jelas lagi, Habib Assegaf menuturkan “Kami adalah pelayan-pelayan Anda, kewajiban kami memberikan pelayanan yang terbaik untuk para tamu agung.†Jemaah begitu serius dan antusias mengikuti rentetan agenda manasik. Bahkan banyak diantara jemaah yang terlihat berkaca-kaca saat mendengarkan filosofi tentang esensi haji saat wukuf di Arafah.

Enam jam menuju sebuah fitrah. Terlahir suci kembali setelah lembaran hidup terasa kelam. Lembaran kain hitam yang membentang sejauh langkah terpijak, menjadi putih dan suci setelah melalui enam jam krusial itu. Tak ayal ketika Allah SWT “berdialog†dengan Nabi Musa As. Mengenai keutamaan wukuf di Arafah, Nabi Musa berharap agar syariat wukuf saat berhaji menjadi bagian dari kewajiban umatnya. Namun Allah SWT menolaknya, hari yang paling mulia saat wukuf itu akan tetap menjadi bagian syariat haji untuk umat kekasih-Nya, Muhammad SAW. Setelah tertolak, Nabi Musa terus bermunajat dan memohon pada Allah, jika wukuf tidak dijadikan bagian syariatnya, bagaimana jika ia dijadikan sebagai umatnya Nabi Muhammad SAW untuk bisa mengikuti wukuf di Arafah. Tetapi Allah SWT. tetap menolaknya. Kemuliaan hari Arafah dalam perjalanan haji akan diberikan pada kekasih agung-Nya. Subhanallah… Betapa besar keutamaan dan kemuliaan hari Arafah, sehingga Nabi Musa As. bermohon untuk dijadikan umat Rasulullah SAW.

Diantara ratusan bahkan ribuan Nabi-nabi Allah di muka bumi, sebanyak 25 Nabi yang diwajibkan untuk dikenal. Diantara ke-25 Nabi hanya 5 nabi yang terpilih sebagai nabi pilihan (Ulul Azmi), diantaranya Nabi Nuh As, Nabi Ibrahim As, Nabi Musa As, Nabi Isa As, dan Nabi Muhammad SAW. Diantara ke-5 nabi dan Rasul tersebut, Nabi Muhammad SAW yang terpilih menjadi kekasih Allah SWT yang paling mulia. Sehingga Allah menetapkan hari Arafah yang penuh dengan keberkahan itu menjadi bagian dari syariat yang dianugrahkan untuk Nabi Muhammad dan umatnya.

Six hours to reborn bukan semata khayalan dan hanya semacam iming-iming agar manusia berhaji. Tetapi Rasul telah bersabda dalam sebuah hadist shahihnya, “Baangsiapa melaksanakan haji di rumah ini tidak rafast, dan tidak berbuat fasik, maka dia kembali seperti pada hari dilahirkan ibunya (HR. Bukhari). Saking dahsyatnya hari Arafah, sehingga siapapun yang berada di Arafah melaksanakan wukuf, dan ada secuil bagian hatinya yang meragukan ampunan Allah SWT. Maka ia telah berbuat dosa besar.

So, untuk menghadapi hari-hari haji, terutama pada enam jam diatas, tak ada salahnya jika dipersiapkan dari sekarang. Karena pembentukan kharakter dan mental menuju keshalehan diri tak bisa dibentuk dengan instan.

Sumber : www.cordova-travel.com
Read More..

Makna Wukuf di Arafah

9 dulhijjah atau senin 15 nopember 2010

Hari ini jutaan jamaah haji berkumpul di Arafah untuk melaksanakan salah satu rukun haji yaitu wukuf di arafah. Bersamaan dengan itu....seluruh umat islam di dunia disunnahkan untuk melakukan puasa arafah yang jatuh pada tanggal 9 dulhijjah atau senin 15 nopember 2010. Mudah-mudahan seluruh jamaah haji diberikan kekuatan untuk melaksanakan rangkaian ibadah haji ini termasuk wukuf di arafah.

Sebenarnya apa sih makna wukuf di arafah...? Boleh dikata... wukuf di arafah merupakan miniatur padang mahsyar dimana seluruh umat manusia akan dibangkitkan dari kematian dan berkumpul di suatu tempat yang disebut padang mahsyar. Manusia harus mempertanggungjawabkan semua amal perbuatan dihadapan Allah swt. Padang mahsyar diperkirakan panasnya luar biasa...hanya manusia yang banyak amal ibadahnya saja....yang mampu merasakan kesejukan di tengah panasnya padang mahsyar. Selebihnya akan merasakan panasnya terik matahari yang hanya sejengkal tingginya....dengan rasa panas yang luar biasa. Ini karena selama hidup di dunia...banyak manusia yang melakukan dosa dan perbuatan buruk lainnya.

Wukuf di arafah seolah mengingatkan kita semua akan hari kebangkitan itu. Sudah selayaknyalah manusia mempersiapkan hari pembalasan itu. Dimana setiap manusia akan dihisap secara adil oleh Tuhan yang Maha Adil. Tidak ada sedikitpun kesalahan dalam hisap nanti. Keadilan betul-betul ditegakkan. Disana...hukum tidak bisa dibeli oleh siapapun...termasuk orang macam Gayus tambunan...ataupun mafia lainnya. Barangsiapa berbuat kejahatan walaupun seberat "atom"...maka dia akan mendapatkan balasannya. Begitu pula bila berbuat baik walaupun hanya sebesar "atom"...maka diapun akan mendapat balasan.

So...jangan pernah bersedih ketika kita sudah berbuat baik di dunia ini...ternyata tidak dihargai oleh orang lain....karena Allah Maha Melihat dan Maha Adil. Besok di akhirat akan dibalas dengan pahala yang setimpal...asal perbuatan baik itu bener-benar dilakukan dengan ikhlash..hanya mengharap ridho Allah swt.

Maka..di Arafahlah...jamaah haji digembleng dengan panasnya terik....dan perjuangan yang cukup melelahkan. Asal mau bersabar dan selalu bertawakal...Insya Allah akan menjadi pribadi yang luhur dan hajinya akan mabrur.

Pentingnya Wukuf di Arafah

Sebagaimana Sabda Nabi, Al-hajju 'Arafah'', maksudnya adalah inti dan puncak haji adalah melaksanakan wukuf di Arafah. Arafah berarti mengenal, mengetahui, dan menyadari. Sedangkan makna wukuf adalah berdiam diri.
Dengan demikian, makna wukuf di Arafah adalah berdiam diri untuk meditasi dan menengadah guna merenungkan eksistensi diri dihadapan Allah SWT dan dihadapan makhluk alam semesta kemudian melakukan transformasi ruhaniah secara besar-besaran.

Dengan wukuf di Arafah tersebut, orang-orang yang melaksanakan haji diharapkan menjadi arif dan sadar akan eksistensi dirinya, dari mana ia berasal dan ke mana ia akan pergi, sadar akan tugas dan tanggung jawabnya, serta memanifestasikan dan mengaplikasikan kesadaran tersebut dalam bentuk tindakan konkret dalam kehidupan pribadi dan kehidupan masyarakatnya.

Haji juga melatih manusia melepaskan diri dari selera konsumtif, cinta harta, nafsu birahi, amarah, dan berkata keji atau perkataan kotor. Dalam berhaji, manusia dilarang mengenakan perhiasan atau parfum. Bahkan sebaliknya (sangat) dianjurkan untuk rela berkorban apa saja yang menjadi miliknya -- termasuk yang paling dicintainya, sebagaimana Nabi Ibrahim as yang rela mengorbankan Ismail, putra yang amat dicintainya (lihat QS 37: 99-113).

Said Hawwa dalam buku Al-Islam menyatakan bahwa dengan ibadah haji, seseorang dapat belajar tentang banyak hal, terutama tentang persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah), persamaan manusia (al-musawah), dan persatuan umat. Dengan haji pula, seseorang dapat belajar tentang perjuangan kesabaran, kesediaan untuk berkorban tanpa pamrih, toleransi,dan kepedulian sosial.

Demikian makna ibadah haji dan wukuf di arafah ...semoga bermanfaat bagi kita semua dan menambah keimanan dalam hati kita ...Amiien.

Sumber : www.didiksugiarto.com
Read More..

Airmata Rasulullah SAW

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya.


Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis-shalaati, wa maa malakat aimaanukum - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.

Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii! - Umatku, umatku, umatku".

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allaahumma sholli 'alaa Muhammad wa baarik wa sallim 'alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

*******

NB : Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan RasulNya mencintai kita. Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Amin.

Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangimu di dunia, tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang mengasihmu di akhirat.

Sumber : www.wakrizki.net
Read More..

Puisi Saat - Saat terakhir Muhammad Rasulullah

Puisi Saat - Saat terakhir Muhammad Rasulullah

Deman itu,
Demam yang pertama,
Demam yang terakhir,
Bagi Rasul Terakhir.

Jam itu,
Adalah jam jam penghabisan,
Bagi utusan penghabisan.

Dalam demam yang mencekram,
Betapa sabar kau terbaring diselembar tikar,
Dalam jam, jam yang mencekam,
Betapa dalam lautan pasrahmu,
Hanya kulihat matamu beri isyarat,
Adakah gerangan yang ingin kau pesankan,
Dalam jam, jam penghabisan,
Wahai nabi pilihan.

Maka, kuhampirkan telingaku yang kanan dimulutmu yang suci,
Maka ku dengar ucapmu pelan,
Dibawah tikar, ada sembilan dinar,
Tolong, tolong sedekahkan sesegera mungkin,
Kepada, fakir miskin.

Mengapa yang sembilan dinar,
Mengapa itu benar,
Mengapa,,
Mengapa itu yang membuatmu resah wahai Rasulullah,
Sebab, kemana nanti ku sembunyikan wajahku dihadirat Illahi,
Bila aku menghadap,
Dia tahu,
Aku meninggalkan bumi dengan memiliki duit,
Biar sedikit,
Biar cuma sembilan dinar.

Kebumi aku di utus,
Memberikan arah ke jalan yang lurus.

Tugasku ..
Tugasku tak hanya menyampaikan pesan,
Tugasku juga adalah sebagai teladan.

Bagi segala yang mencintai Tuhan,
Lebih dari segala dinar,
Lebih dari segala yang lain.

Miskin aku datang,
Biarlah, biarlah miskin aku pulang,
Bersih aku lahir,
Biarlah, bersih hingga detik terakhir.

Sembilan dinar pelan pelan ku ambil di bawah tikar,
Bergegas aku keluar dari kamarmu yang sempit,
Kamarmu yang amat sederhana,
Bergegas aku kelorong-lorong sempit,
Diatas tanah pasir jalan Madinah.

Mensedekahkan dinar yang sembilan,
Kepada orang-orang miskin seperti kau,
Kepada orang-orang yang kau sangat sayangi,
Orang-orang yatim seperti Kau.

Dan,
Demam itu,
Demam yang pertama,
Demam yang terakhir.
Bagi Rasul terakhir.

Dan jam itu adalah jam penghabisan,
Bagi utusan penghabisan.

Muhammad,,
Kau tak disitu lagi ditubuh itu,
Tinggal senyum dibibirmu,
Tinggal teduh diwajahmu.

Rasulullah,,
Miskin kau datang,
Miskin kau pulang
Bersih kau lahir,
Bersih, hingga detik terakhir.

Read More..

Ramadhan dan Makanan Enaknya! Nikmat atau Cobaan?

Salah satu yang paling ditunggu-tunggu pada saat berpuasa adalah waktu berbuka, yaitu waktu dimana hidangan yang kebanyakan mengandung kadar gula dan kalori yang cukup tinggi disajikan. Makanan-makanan seperti kolak, gorengan, kue-kue manis, dan makanan bersantan amat sering kita temui semenjak awal bulan Ramadhan hingga pun setelah Idul Fitri.
Coba kita perhatikan ilustrasi berikut ini :

Nah, dari ilurstrasi di atas sudah jelas bahwa makanan-makanan enak berkalori tinggi tersebut adalah salah satu cobaan yang harus dihadapi para peserta puasa Ramadhan. Bahkan bagi saya yang tidak terbiasa puasa, maka akan sulit menahan untuk tidak makan banyak-banyak setelah seharian puasa.
Agar puasa kita lancar dan sehat memang kita harus membutuhkan makanan yang dapat membuat energi kita kembali, tapi alangkah baiknya kita tidak salah memilih makanan, karena salah-salah malah dapat membuat kita lemas, terjadi penumpukan lemak, atau bahkan menjadi sakit.
Berbuka dengan yang manis?
Saya teringat dengan iklan minuman yang berbunyi seperti ini : “Berbukalah dengan yang manis.” Nah iklan tersebut telah membuat banyak orang (termasuk saya) menjadi salah kaprah tentang bagaimana berbuka yang baik dan benar. Karena justru Rasulullah tidak mencontohkan seperti itu!
Tapi Rasulullah kan berbuka dengan kurma?
Rasulullah memang berbuka dengan kurma atau air putih, seperti diriwayatkan oleh Anas bin Malik dalam hadits berikut :
Rasulullah pernah berbuka puasa dengan ruthab (kurma segar) sebelum shalat, kalau tidak ada ruthab, maka beliau memakan tamr (kurma kering) dan kalau tidak ada tamr, maka beliau meminum air, seteguk demi seteguk.
Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa Rasulullah berbuka dengan Ruthab (kurma segar), Tamr (kurma kering), dan air putih. Untuk diketahui bersama bahwa kurma yang dimakan Rasulullah berbeda dengan kurma yang banyak dijual di Indonesia. Kurma yang biasa kita temui bukanlah Ruthab ataupun Tamr, melainkan manisan kurma alias kurma yang sudah diberi tambahan gula sebagai pengawet.
 Kurma yang masih segar
Lantas bedanya apa? Kan sama-sama kurma juga?
Seperti yang tadi sudah saya katakan bahwa kurma yang biasa kita temui adalah manisan kurma. Manisan kurma mengandung banyak gula dan rasanya pun sangat manis, sedangkan kurma segar dan kurma kering rasanya tidak terlalu manis. Makanan yang mengandung banyak gula adalah “Karbohidrat Sederhana“, sedangkan kurma yang dimakan Rasulullah adalah salah satu makanan yang disebut “Karbohidrat Kompleks” yang sangat baik untuk tubuh kita.
Mengenal Karbohidrat Sederhana dan Karbohidrat Kompleks
Karbohidrat Sederhana adalah karbohidrat yang mengandung banyak kadar gula dan merupakan sumber energi yang sangat besar, namun juga cepat habisnya. Energi yang dihasilkan dari karbohidrat sederhana hanya bertahan sebentar dalam tubuh, dan apabila berlebih akan ditumpuk menjadi lemak dalam tubuh. Karbohidrat sederhana dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :
  • Karbohidrat sederhana dengan GI (Glycemic Index) tinggi yang memiliki sifat merangsang penimbunan lemak karena respon insulin yang tinggi. Contoh makanannya adalah makanan yang banyak mengandung gula tambahan seperti sirup, minuman ringan, permen, kue-kue, dll. Pokoknya yang rasanya manis banget.
  • Karbohidrat sederhana dengan GI (Glycemic Index) rendah yang memiliki sifat menyediakan energi besar yang cepat habis, namun tidak merangsang penimbunan lemak karena respon insulinnya rendah. Contoh makanannya adalah aneka buah-buahan manis seperti pisang, apel, pir, dll. Karena itu nggak heran jika kita melihat olahragawan sedang makan pisang sebelum bertanding.
Karbohidrat Kompleks adalah karbohidrat yang memiliki struktur untaian gula yang panjang dan juga merupakan sumber energi besar, namun memiliki sifat yang membuat energi yang dihasilkan menjadi lebih tahan lama dan tidak menumpuk menjadi lemak. Dalam tubuh kita karbohidrat kompleks akan diproses secara perlahan, itulah sebabnya energi yang dihasilkan menjadi tahan lama. Karbohidrat kompleks juga dibagi menjadi 2, yaitu :
  • Karbohidrat kompleks dengan GI (Glycemic Index) tinggi yang memiliki sifat merangsang penimbunan lemak karena respon insulin yang tinggi, namun terjadinya secara perlahan sehingga energi tersimpan lebih lama. Karbohidrat kompleks yang seperti ini akan menyimpan energi dalam tubuh, dan menjadi otot jika dilatih (olahraga) secara teratur. Jika tidak ya menjadi lemak. Contoh makanannya adalah beras putih, jagung, kentang, dll.
  • Karbohidrat kompleks dengan GI (Glycemic Index) rendah yang memiliki sifat yang menyediakan energi lebih lama dengan respon insulin yang rendah, sehingga tidak akan menjadi lemak. Biasanya makanan-makanan yang mengandung hal ini banyak disarankan karena sifatnya yang sehat. Contoh makanannya adalah kurma segar, beras merah, umbi-umbian, sayuran, dll.
Nah, setelah penjelasan tentang kedua macam karbohidrat di atas, apakah teman-teman sudah mendapatkan informasi tentang makanan yang baik untuk kita berbuka seperti apa saja?
Jangan sampai setelah bulan Ramadhan berakhir kita malah sakit atau berat badan kita menjadi tidak proporsional. Banyak juga lho yang sakit setelah bulan Ramadhan berakhir karena saat berpuasa banyak mengkonsumsi makanan dengan kadar gula yang salah menjadikannya lemas dan bawaannya malas.
Rasulullah mengajarkan kita untuk makan dengan tidak berlebihan. Justru saat berbuka perut kita yang seharian tidak diisi sedang dalam keadaan beristirahat. Coba secara logika aja, kalau ada orang lagi tidur terus kita bangunkan dengan sesuatu yang membuatnya kaget, pasti dia marah kan. Perut kita juga begitu, kalau kita kagetkan dengan makanan yang berlebihan akan ngambek dan muncul penyakit.
Dahulu seorang dokter dari Sudan pernah berpesan kepada seorang Raja yang sakit, “Jika ingin sehat, makanlah sesudah lapar dan berhentilah sebelum kenyang.” Jangan sampai makanan menjadi cobaan yang menghalangi ibadah kita di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Semoga penjelasan saya di atas bisa membantu kita agar dapat berpuasa lebih sehat.

Read More..

Pelajaran Sang Keledai

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Sementara si petani, sang pemiliknya memikirkan apa yang harus dilakukannya
Akhirnya , ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun karena berbahaya. Jadi tidak berguna menolong si keledai. Ia mengajak tetangganya untuk membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur
Ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia meronta-ronta. Tetapi kemudian, ia menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang melihatnya
Walaupun pungungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu
Si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewa itu namun si keledai juga terus menguncangkan badannya dan kemudian melangkan naik. Si keledai akhirnya bisa meloncat dari sumur dan kemudian melarikan diri.
Renungan:

Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepada kita. Segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari “sumur” (kesedihan dan masalah) adalah dengan mengguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran dan hati kita) dan melangkah naik dari “sumur” dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan
Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melanglah. Kita dapat keluar dari “sumur” yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah. Guncangkanlah hal-hal negatif yang menimpa dan melangkahlah naik.

Sumber : www.penyegarhati.com
Read More..

Tugas Kita Adalah Berikhtiar

Ketika orang lain berbicara sejuta bahasa, tetaplah anda bekerja. Cangkullah sawah itu dan taburi dengan benih. Ketika orang lain berdiam tak tahu harus berkata apa, teruskan kerja anda. Siangi dan airi putik-putik yang baru bertunas itu. Ketika orang lain saling tuding saling hunus, bekerjalah dalam istirahat anda. Senandungkan seranai pengundang angina dan gerimis. Ketika orang lain terlelap pada tidur nyenyak mereka, jangan putuskan kerja anda. Bekerjalah dengan doa dan harapan.”semoga ikhtiar ini menjadi kebaikan bagi segenap semesta.” Maka, ketika orang lain tergugah dari peraduannya , ajaklah mereka untuk mengangkat sabit memungut panen yang telah masak. Bila mereka tak jua berkenan, jangan kecil hati. Terus dan tetaplah bekerja. Bekerja, karena itulah yang semestinya kita kerjakan.

Apapun yang terjadi di muka bumi, sang mentari tak berhenti sedetikpun dari kerja; mengipasi tungku pembakaran raksasanya; menebarkan kehangatan ke seluruh galaksi. Maka, taka da alas an yang lebih baik untuk keberadaan kita disini, selain bekerja, mengubah energy hangat matahari menjadi kebaikan semesta.

Sumber : www.penyegarhati.com
Read More..

Cemburu


Aku cemburu kepadanya yang memiliki hati setipis sutra, yang jika dibacakan Qur’an kepadanya maka iapun menangis

Aku cemburu kepadanya yang kaya nan dermawan, yang jika melihat kesusahan orang lain maka iapun memberi

Aku cemburu kepadanya yang miskin nan jujur, yang jika digoda dengan harta haram nan melimpah maka iapun menolak

Aku cemburu kepadanya yang rupawan nan tawadhu’, yang jika dipuji terus menerus maka iapun bersyukur kepada yang memberi

Aku cemburu kepadanya yang buruk nan tabah, yang jika dihina terus menerus maka iapun

bersyukur kepada yang memberi

Aku pun cemburu padanya yang kuat nan berwibawa, yang mampu melindungi yang lemah dan melawan yang salah

Aku juga cemburu padanya sang pemimpin yang bijaksana, yang mampu memimpin rakyatnya menuju kesejahteraan dan keadilan.

Aku cemburu kepada orang sakit yang selalu bersyukur

Aku cemburu kepada orang sehat yang mampu memanfaatkan waktunya

Aku cemburu kepada orang berilmu yang mampu membagi-bagikan ilmunya

Aku cemburu kepada orang sholeh yang mampu mengajak tetangganya untuk ikut mengumandangkan nama-Mu

Buat apa aku cemburu?

Aku cemburu karena merasa kurang mampu. Allah melimpahkan kekuatan kepada mereka yang belum tentu aku bisa memikulnya Aku takut menjadi orang yang dzalim jika diberikan kekuatan seperti mereka. Apakah aku bisa???

Sumber : www.alrezamittariq.blogspot.com
Read More..

Jangan Mengharapkan "Terima Kasih" dari Seseorang (Lâ Tahzan, DR. 'Aidh al-Qarni)

{Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allâh. Kami tidak mengharapkan balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terimakasih}(QS. Al-Insân:9)

{Tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu dari padanya, dia (kembali) melalui (melalui jalannya yang sesat), seolah olah dia tidak pernah berdo'a kepada kami untuk(menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan}(QS. Yûnus:12)
Read More..

Hal Positif

Setiap melakukan sesuatu banyak sisi positif yang bisa di ambil > bukan membenarkan sesuatu yang negatif. Lakukan hal positif^setiap kendala or hambatan tetap teguh pada tujuan awal "+" [kucinya latih lah & berusaha tuk ingat apa tujuan awal "+" jikalau lupa or khilaf biasakan tuk meralanya tu "+"].

Kenali mengapa diawalnya "+" kemudian berubah jadi "-". Itu karna masih ada keraguan. Segeralah teguhkan pemdirian ke Awal.

[(Niat, Do'a)]
.

Insan Maunusia memiliki Hati Nurani. Jikalau bersahabat dengan Hati Nurani kan sadar mana yang "+" & "-" (melakukan "-" kan membuat risau~ merasakan jeritan hati). Jikalau tak mengenal hati nurani (melakukan "-" tak merasakan~ kosong~ sombong~ acuh tak acuh~ pada hatinya).
Read More..
Top Bottom Back To Top